Rabu, 22 Agustus 2012

SISA SISA KEBESARAN KADIRI KUNO

Daerah Kediri atau Kadiri merupakan daerah yang sangat subur karena sebuah sungai besar mengairi daerah ini. Alasan inilah yang menjadikan Kadiri dipilih oleh sejumlah kerajaan masa klasik Jawa Timur sebagai satu daerah penting.Kedudukannya sebagai suatu daerah penting terbukti dengan banyaknya data arkeologi yang berasal dari daerah ini, yang merupakan cerminan eksistensi Kadiri pada masa kerajaan klasik Jawa Timur.
Kerajaan Kadiri merupakan salah satu dari beberapa Kerajaan besar di Indonesia pada masa Hindu Budha. Bahkan jaman Kerajaan Kediri disebut-sebut sebagai jaman Keemasan Kesusasteraan Indonesia. Pada Masa ini banyak sekali dihasilkan karya sastra besar, seperti misalnya : Asmaradhahana, Baratayudha, Gatotkaca sraya, Arjuna Wijaya, Lubdaka, वेर्तासंकाया, क्रेस्नायाना, bahkan sebuah kitab yang diyakini oleh mayoritas masyarakat Indonesia akan kebenarannya “Jongko Joyoboyo”. Kita juga mengenal adanya kitab cerita Panji. Sebuah kisatentang Raden Panji yang sangat terkenal ini dibahas oleh seaorang arkeolog Jerman “ Lydia Kiefen”. Sebuah kisah asmara antara Panji Asmorobangun (putera raja Jenggala) dengan Dewi sekartaji atau Galuh Candra Kirana (puteri raja Panjalu). Pernikahan dua sejoli inilah yang akhirnya menyatukan Kerajaan Jenggala dan Panjalu, yang semula saling bermusuhan sejak pertikaian antara Mapanji Garasakan dengan Sri Samarawijaya.
Nama Airlangga tidak terlepas dari pendirian Kerajaan Kadiri (Panjalu). Pembagian kerajan Kahuripan menjadi Janggala dan Panjalu merupakanlangkah Airlangga untuk menyelesaikan kemelut di Kerajaan Kahuripan. Berdasarkan prasasti Wurare berangka tahun 1211 Saka (1289 M) pada bagian awal disebutkan pendeta utama bernama Aryya Bharad telah membagi tanah Jawa menjadi dua dengan air suci dari kendi yang mempunyai kemampuan untuk membelah tanah karena dua orang raja yang telah siap berperang. Dengan pembagian ini muncullah kerajaan Janggala dan Panjalu, keberadaan dua kerajaan ini merupakan awal eksistensi Kadiri menjadi sebuah kerajaan besar di belakang hari.
Pada awal berdirinya, kerajaan Kadiri (Panjalu) jauh tertinggal pamornya dibanding kerajaan Janggala, namun setelah melalui masa kegelapan dengan tidak ditemukannya berita mengenai keberadaan kedua kerajaan itu, baru kira-kira 60 tahun kemudian , kerajaan Kadirilah yang muncul memimpin. Berita tentang kerajaan Kadiri (Panjalu) termuat dalam prasasti Padlegan dikeluarkan oleh Raja Bameswara berangka tahun 1038 Saka (1117 M) yang beisikan anugrah raja kepada penduduk desa Padelegan berupa anugrah sima swatantra. Pada prasasti ini disebutkan untuk menghadap raja, rakyat Padlegan menjadikan Sang Juru Pangjalu Mapanji Tusing Rat sebagai perantara.
Sisa sisa kebesaran Kediri bisa kita jumpai sekarang ini baik di wilayah Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri.
1. Prasasti Harinjing
Prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodhong ini berisi tentang penganugerahan Tanah Perdikan Sima kepada Bagawanta Bhari. Berdasarkan prasasti inilah Hari jadi Kabupaten Kediri ditetapkan, yaitu setiap tanggal 23 Maret. Prasasti ini terletak di desa Sarinjing (sekarang) wilayah Kecamatan Kepung Kab. Kediri.
2. Goa Selo Mangleng
Goa ini terletak di dilayah Kota Kediri tepatnya di Desa Pojok Kecamatan Mojoroto, di lereng anak Gunung Wilis, yaitu Gunung Klothok. Goa ini merupakan peninggalan Sri Sanggramawijaya, puteri sulung Airlangga yang tidak bersedia dinobatkan sebagaipenguasa Kahuripan. Beliau memilih menjadi seorang Bikuni bergelar Dewi Kili Suci, dan mendirikan pertapaan di lereng Gunung Wilis (yang sekarang kita kenal dengan Gua selo Mangleng). Goa ini mempunyai dua buah pintu di bagian depan dengan hiasan Kala Makara di bagian atas pintu masuk. Karena ketidak sediaan Sri Sanggramawijaya untuk meneruskan tahta ayahandanya inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya rebutan kekuasaan antara kedua adiknya, yaitu Mapanji Garasakan dengan Samarawijaya. Perang saudara ini memaksa Airlangga yang sudah menjadi pertapa untuk kembali ke kerajaan. Dibantu Mpu Baradha, Airlangga membagi Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu yang diperkirakan terjadi sekitar tanggal 24 Nopember 1042 (Prof. Slamet Muljana; Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya)
Kini kawasan situs goa Selomangleng ini dilengkapi dengan obyek wisata dan di dekatnya dibangun sebuah Museum yang diberi nama Musem "Airlangga"

3. Arca Totok Kerot
Sebuah patung Dwarapala (Penjaga Pintu Gerbang) yang berada di wilayah Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri ini oleh masyarakat Kediri diberi nama Totok Kerot karena adanya anggapan bahwa arca ini adalah perwujudan raksasa perempuan.
Dengan adanya Arca Dwarapala ini mungkinkan Kerajaan Kediri pada masa itu berpusat disekitardaerah ini ??? Mengingat dari bentuknya yang sangat besar , sangat dimungkinkan arca Totok Kerot ini adalah arca Penjaga Pintu Gerbang Kerajaan. Disekitar wilayah ini banyak ditemukan situs peninggalan kerajaan Kediri juga nama-nama daerah yang pernah disebutkan dalam prasasti kerajaan Kadiri, seperti; desa Katang, Lumbang, adan-adan, desa Girah (Gurah?). Arca ini seharus berjumlah dua buah atau satu pasang.
4. Situs Tondho Wongso
Komplek percandian dari batu bata merah (terakota) ini merupakan penemuan baru (2007) di wilayah Kabupaten Kediri, tepatnya di desa Tondo Wongso Kecamatan Gurah. Situs ini sekarang terletak di tengah perkebunan tebu. Di situs ini banyak dijumpai arca yang terbuat dari batu berwarna putih, yang sekarang disimpan di Museum Trowulan Mojokerto. Arca-arca tersebut sangat halus buatannya. Berikut ini penulis akan menampilkan beberapa gambar situs dan arca peninggalan yang ada di Tondo Wongso yang diambil dengan kamera dari Museum Trowulan Mojokerto.
Tampak pada gambar di atas, beberapa bagian sudut candi pada situs Tondo Wongso dan arca-arca yang terbuat dari batu berwarna putih sangat halus pahatannya.5. Situs Babadan/Sumbercangkring
Situs ini juga baru seperti Tondo Wongso dan terbuat dari terakota. Situs ini juga terletak di dusun Babadan Desa Sumbercangkring Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Di situs ini banyak kita jumpai beberapa arca yang belum selesai pengerjaannya. Dimungkinkan pekerjaan tidak diselesaikan karena adanya bencana letusan Gunung Kelud. Ini sangat besar kemungkinannya, karena pada saat ditemukan, baik situs Babadan dan tondo Wongso berada dibawah timbunan material/tanah vulkanis Gunung Kelud pada ekedalaman sekitar 2 meter dari permukaan tanag sekarang
Berikut ini beberapa bagian situs Babadan Sumbercangkring yang diambil dengan kamera penulis :
Tampak pada gambar dari situs Babadan Sumbercangkring sebuah Kala Makara, dan lantai dasar candi yang terbuat dari bata merah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar