Rabu, 22 Agustus 2012

POLEMIK NGAYOGYAKARTO HADININGRAT (Tinjauan Historis)


Bangsa Indonesia sedang dilanda kebingungan yang amat sangat, karena banyaknya polemik yang belum terpecahkan sudah muncul kembali polemik yang baru. Masih sangat segar dalam ingatan kita ketika masalah Keistimewaan Ngayogyakarto Hadiningrat dipermasalahkan oleh pemerintah, sehingga menimbulkan reaksi dari berbagai politisi (tentu saja dengan kepentingan kelompoknya masing-masing, mumpung ada kesempatan untuk menghantam pemerintah) dan masyarakat, terutama saudara-saudara kita di Ngayogyakarto Hadiningrat.

Ketika beberapa hari yang lalu saya pergi ke Yogyakarta, saya melihat dengan mata kepala sendiri adanya Posko Referendum di sebelah alun-alun Yogyakarta. Ini pertanda akankah rakyat dan saudara-saudara kita di sana betul betul ingin seperti Timor Timur ? Doa saya mudah-mudahan tidak. Saya yakin saudra-saudara kita di Yogya akan berbesar hati untuk tetap bergabung dengan NKRI, dengan catatan Pemerintah Pusat juga harus arif dan bijaksana menyelesaikan masalah yang mereka munculkan sendiri. Pemerintah yang memulai polemik maka dengan tanggung jawab besar pemerintah juga yang harus menyelesaikan polemik ini, demi satu kata NKRI. Jangan melihat status Yogyakarta dari kepentingan politik saja, tetapi akan lebih bijak kalau pemerintah mau melihat status Yogyakarta dari segi historis. Mengapa Yogyakarta memiliki keistimewaan ? Itulah yang harus dilihat. Itu akan sama kalau melihat mengapa Jakarta menjadi Daerah Khusus, Aceh juga memiliki kekhususan.
Berikut ini sedikit gambaran tentang status Yogyakarta jika ditinjau dari segi historis.
A. BERDIRINYA KASULTANAN MATARAM
Ketika Kasultanan Demak berakhir dengan dipindahkannya ibukota / pusat pemerintahan oleh Raden Mas Karebet ke Pajang, maka berdirilah sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa yang bernama Kasultanan Pajang. Raden Mas Karebet (Putera Ki Ageng Pengging yang juga menantu Sultan Trenggono) menjadi Sultan Pajang bergelar Sultan Hadiwijoyo. Beliau mempunyai 2 orang putera, yaitu :
1. Raden Sutowijoyo , yang bergelar Raden Ngabehi Lor Ing Pasar merupakan putera angkat. Sutowijoyo adalah putera Ki Aageng Pemanahan (saudara seperguruan Raden Mas Karebet)
2. Pangeran Benowo (putera Kandung)
Ketika Raden Sutowijoyo berhasil memenangkan sayembara yang diadakan oleh ayah angkatnya sendiri, yaitu membunuh Aryo Penangsang yang ingin mengambil haknya sebagai pewaris tahta Demak, maka dengan bantuan Ki Ageng pemanahan dan Juru Martani, Sutowijoyo membuka hutan Mentaaok dan mendirikan Padukuhan Mataram.
Padukuhan Mataram inilah yang kemudian berubah menjadi sebuah kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa, yaitu Kasultanan Mataram dan Sutowijoyo menjadi Sultan Mataram bergelar "Panembahan Senopati ing Alogo Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa"
Berturut-turut Sultan Mataram adalah sebagai berikut :
  1.  Panembahan Senopati Ing Alogo
  2. Panembahan Hanyokrowati (Raden Mas Jolang)
  3. Sultan Agung Hanyokrokusumo (Raden Mas Rangsang)
  4. Sunan Amangku Rat I
  5. Sunan Amangku Rat II
  6. Sunan Amangku Rat III
  7. Susuhunan Paku Buwono I
  8. Susuhunan Paku Buwono II
B. DISINTEGRASI MATARAM (BERDIRINYA KASULTANAN NGAYOGKARTO HADININGRAT DAN KASUNANAN SURAKARTA)
Pada masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono II inilah terjadi perselisihan yang menimbulkan pecahnya peperangan antara Paku Buwono II dengan saudara-saudaranya, yaitu Pangeran mangkubumi dan raden mas Said. Dengan campur tangan Belanda maka pada tahun 1755 diadakan Perjanjian Giyanti yang isinya membagi Kasultanan Mataram menjadi 2, yaitu :
  1. Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I
  2. Kasunanan Surakarta dipegang oleh Paku Buwono II

Bahkan dalam Perjanjian Salatiga tahun 1757, Kasunanan Surakarta dibagi lagi menjadi 2 , yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran (Raden Mas Said bergelar KGPAA Mangkunegoro I)
Sedangkan Ksultanan Ngayogyakarto dibegi lagi menjadi 2, yaitu Kaultanana dan Paku Alaman.
Mengapa Demikian ?
Inilah taktik jitu VOC untuk memcah kekuatan Mataram khususnya. Dalam berbagai kasus perlawanan sebelum abad 20 semua perlawanan dapat dihentikan dengan taktik adu domba (devide et impera). Bukan hanya dengan teman seperjuangan, saudara, bahkan antara anak dengan orang tua pun bisa diadu domba oleh VOC. Contoh kasus : Sultan Ageng Tirtayasa yang di adu dengan puteranya sendiri Pangeran Abdul Kahar/Sultan Haji.


C. PEMBAGIAN WILAYAH RI MENJADI 8 PROPINSI (MINUS YOGYAKARTA DAN PAPUA) 
Ketika Indonesia di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, mulai tanggal 18 Agustus 1945 PPKI mengadakan sidang untuk menyusun kelengkapan negara


D. SURAT PERNYATAAN SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX (5 SEPTEMBER 1945)
tulisan masih belum selesai nda /bersambung..........sabar ya...................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar