Selasa, 21 Agustus 2012

Film-film Amerika dari Perang Vietnam Hingga 11 September

PERSPEKTIF

Film-film Amerika dari Perang Vietnam Hingga 11 September 

Saudara pendengar sekalian di manapun Anda berada, tak lama lagi, dunia akan kembali mengenang peristiwa teror terbesar dalam sejarah yang terjadi pada tanggal 11 September 2001 di New York. Selama tiga tahun sejak berlalunya peristiwa tersebut, kita menyaksikan bahwa peristiwa ini dimanfaatkan sebagai sarana propaganda besar-besaran oleh berbagai kekuatan media massa dunia. Dalam sejarah AS, peristiwa perang dan teror telah menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan berbagai film. Misalnya, peristiwa teror terhadap Presiden AS, John F. Kennedy. Peristiwa ini kemudian difilmkan oleh sutradara Oliver Stone dan diberi judul JFK.
Di dalam film ini, pada akhir sidang pengadilan, jaksa penuntut umum, yang  beranggapan  bahwa pembunuh Kennedy lebih dari satu orang, menyampaikan tiga pertanyaan utama demi untuk mengungkapkan kasus pembunuhan ini. Ketiga pertanyaan tersebut adalah, pertama, siapa yang mampu melakukan pembunuhan itu. Kedua, siapa yang mengambil keuntungan dari pembunuhan tersebut. Ketiga, siapa yang mampu memberikan arahan terhadap liputan media massa atas kasus ini sehingga langkah-langkahnya bisa tertutupi?
Ketiga pertanyaan ini pun tampaknya pantas diajukan dalam kasus terorisme 11 September. Apalagi, propaganda yang menyusul kejadian tersebut sedemikian gencar dan luasnya sampai-sampai Gedung Putih berhasil memanfaatkan isu-isu terorisme sebagai alasan untuk menyerbu Afganistan dan Irak, serta menduduki kedua negara tersebut hingga kini. 
Peristiwa lain yang banyak menjadi sumber inspirasi dalam dunia film adalah Perang Vietnam. Perang Vietnam adalah sebuah perang yang merupakan hasil dari ambisi pejabat Gedung Putih untuk mencampuri urusan internal negara lain demi meraih kekuasaan di dunia. Perang ini dimulai dengan provokasi AS terhadap sebagian kelompok di Vietnam untuk mendirikan negara yang terpisah dari pemerintahan pusat yang berhaluan komunis. Negara baru bentukan AS ini adalah Vietnam Selatan. Demi untuk melindungi Vietnam Selatan dari serangan tentara Vietnam Utara, AS pun mengirimkan puluhan ribu pasukannya ke Vietnam. Namun tentara AS tidak berdaya melawan kekuatan Vietnam Utara dan akhirnya menarik mundur pasukannya dari negara itu. Namun demikian, krisis dan dampak sosial, budaya dan politik dari perang ini masih terus dirasakan rakyat AS hingga hari ini.
Berbagai film telah dibuat oleh para sineas AS berkenaan dengan film ini, baik yang menjadi corong pemerintah yaitu, menampilkan AS sebagai pahlawan pembela kebenaran dalam perang ini, maupun fikm-film yang mengkritik perang tersebut. Di antara film-film yang mengkritik perang Vietnam adalah film berjudul The Deer Hunter karya Michaal Cimino yang dirilis tahun 1978. Film panjang ini dibagi ke dalam 4 bagian. Film ini meneliti dampak buruk Perang Vietnam terhadap masyarakat sebuah kota kecil yang terletak di Pennyslvania. Film ini mengisahkan tiga orang pria yang bekerja di pabrik metal dan mempunyai kehidupan yang bahagia sampai mereka harus terjun ke medan perang. Dalam perang, mereka sempat tertawan sampai akhirnya berhasil melarikan diri dan dua orang dari mereka berhasil pulang ke kampung halaman dalam keadaan cacat. Namun, seluruh kehidupan mereka telah berubah dan kebahagiaan yang dulu mereka miliki sudah tidak ada lagi.
Film lainnya berkenaan dengan Perang Vietnam adalah film berjudul Apocalypse Now hasil karya sutradara Francis Ford Coppola yang dirilis pada tahun 1979. Naskah film ini didasarkan pada novel terkenal karya Josef Conrad berjudul Heart of Darkness. Kisah film ini berputar pada puncak perang Vietnam dan menggambarkan seorang kolonel muda yang terkenang kembali kepada masa lalunya. Dalam perang tersebut, si kolonel muda itu ditugaskan untuk pergi ke sebuah tempat yang jauh terpencil untuk membunuh seorang perwira yang membelot dari perintah. Sebagian besar dari film ini menceritakan perjalanannya di tengah-tengah darah dan api untuk sampai ke tempat sang perwira calon sasarannya tersebut. Dalam perjalanan ini, si kolonel muda menemui gambaran baru dan pandangan baru mengenai perang. Akhirnya setelah dia melaksanakan tugasnya untuk membunuh sang perwira, perlahan-lahan dia sendiri pun berubah menjadi seperti perwira tersebut.
Film terkenal lainnya mengenai Perang Vietnam adalah film-film karya Oliver Stone, di antaranya berjudul Platoon, Born on the fourth of July, serta  Heaven and Earth. Film-film karya Oliver Stone membicarakan banyak hal yang sebelumnya jarang disentuh berkenaan dengan Perang Vietnam. Oliver Stone sendiri pada usia muda bergabung dalam tentara AS yang ditugaskan ke Vietnam. Awalnya ia percaya bahwa Amerika berada di jalan benar. Namun selepas perang, dia merasa hampa dan kecewa. Perasaan ragu dan kecewa seperti ini banyak dialami oleh para veteran perang Vietnam. Mereka tidak yakin apakah yang mereka lakukan, yaitu membunuhi rakyat Vietnam, adalah tindakan yang benar sebagaimana yang didoktrinkan kepada mereka.
Oliver Stone memproduksi film Platoon pada tahun 1986 yang mengisahkan sekelompok anak-anak muda dan perjuangan mereka dalam sebuah perang. Naskah film ini ditulis oleh Stone sendiri berdasarkan kisah nyata dan bersifat dokumenter. Dalam film ini diperlihatkan hubungan antar-manusia dalam medan perang. Fokus utama film ini ialah konflik antara dua orang,  salah satunya merupakan simbol kebaikan dan seorang lainnya menyimbolkan kejahatan. Pada akhirnya, dendam dan kekerasan telah menyebabkan simbol dari kebaikan itu menemui ajalnya.
Film lain karya Oliver Stone ialah Born on the Fourth of July yang dirilis pada tahun 1989 dan dianggap sebagai filmnya yang paling sukses. Film ini mengisahkan tentang kehidupan seorang anak muda yang berjiwa nasionalis dan lumpuh dalam Perang Vietnam. Dia menahan rasa takut dan cemas saat berada dalam rumah sakit tentara dan melewati kehidupan yang menyedihkan selepas itu. Dalam film ini gambar-gambar di medan tempur digabungkan  dengan kehidupan di luar perang. Film ini menelaah hancurnya impian Amerika pada dekade 1960-an dan Perang Vietnam ditampilkan sebagai puncak pertentangan berbagai pemikiran kontemporer AS.
Karya Oliver Stone lainnya, yang sekaligus dianggap sebagai akhir dari pembuatan film-film mengenai Perang Vietnam adalah film Heaven and Earth yang dibuat pada tahun 1993. Film ini berupaya untuk menunjukkan perang dari pandangan seorang rakyat Vietnam dan hal ini merupakan yang pertama kalinya  dibuat oleh industri perfilman Hollywood. Dalam film ini, dikisahkan mengenai seorang perempuan Vietnam bernama Le Ly Hayslip yang hijrah ke Amerika setelah menikah dengan seorang tentara Amerika yang sebelumnya bertugas di Vietnam. Mantan tentara ini kemudian mengalami depresi akibat pengalaman buruknya selama perang dan si perempuan Vietnam itu berusaha menyelamatkan suaminya dari situasi tersebut. 
Kini, marilah kita kembali kepada peristiwa 11 September. Bagaimanakah para sineas AS memandang peristiwa ini? Apakah mereka membuat film yang mempertanyakan kebenaran dari klaim-klaim pemerintah mereka mengenai peristiwa tersebut? Ataukah mereka malah menjadi alat untuk menyebarluaskan propaganda negatif atas peristiwa tersebut demi kepentingan penguasa?
*       *      *
Peristiwa 11 September 2001 menyebabkan musnahnya menara kembar WTC di New York menyerupai sebuah film di antara berbagai film serupa  produksi Hollywood, misalnya Godzilla, Deep Impact, Armadegon, atau Mission Impossible. Namun, pada pagi hari 11 September 2001, rakyat Amerika dikejutkan oleh sebuah adegan nyata yang mirip dengan adegan dalam film-film. Dua pesawat secara dramatis menabrakkan dirinya masing-masing ke dua gedung kembar WTC yang tingginya masing-masing 412 dan 414 meter. Kedua gedung tersebut hancur berkeping-keping dengan menewaskan ribuan orang yang ada di dalamnya.
Ketika banyak orang menilai kejadian teror terbesar dalam sejarah itu bagaikan sebuah adegan film, banyak yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya film-film AS sejak lama dibuat sedemikian rupa untuk membentuk sebuah opini dalam masyarakat, yaitu opini takut akan datangnya serangan dari teroris. Kini, ketika mereka dengan mata kepala sendiri menyaksikan adegan hancurnya menara kembar WTC, seolah-olah, opini yang selama ini telah ditanamkan kepada mereka lewat berbagai film, hidup kembali. Akibatnya, meluaslah rasa panik luar biasa di tengah warga AS.
Film-film  yang diproduksi Hollywood selama dua dekade terakhir banyak sekali yang menampilkan kota-kota yang diteror dan harapan atas keamanan dan kedamaian yang semakin menipis. Misalnya, dalam film Escape From new York diceritakan tentang tiga juta tawanan yang terkepung dan tidak bisa mencari jalan keluar. Lalu, dalam film Batman dikisahkan tentang ledakan sangat besar yang menimpa bangunan-bangunan yang dibangun di atas air.  Dalam film Armadegon, batu-batu dari langit menghujani New York, dalam filmGodzilla sebuah makhluk raksasa menghancurleburkan kota New York, dan dalam filmIndependence dilihatkan makhluk angkasa datang menguasai kota itu.
Film lain yang berkisah tentang serangan teror terhadap kota New York adalah film berjudulThe Siege atau “Kepungan” karya sutradara Edward Zwick. Adegan film ini dimulai dengan dokumentasi peristiwa pengeboman markas militer AS di Arab Saudi yang menewaskan banyak tentara AS. Lalu, ditampilkan seorang pria berjanggut putih dan menggunakan sorban, yang disebut sebagai otak atas berbagai aksi terorisme. Lelaki Arab yang bernama Syekh Ahmad bin Thalal itu, kemudian ditangkap oleh tentara AS dan dipenjarakan di AS. Di dalam penjara, pria Arab muslim itu sibuk membaca ayat-ayat jihad dan bertasbih. Selanjutnya, adegan berpindah ke kota New York. Seorang muazin di masjid kota New York mengumandangkan azan. Suara azan dengan latar belakang kota New York itu kemudian digabungkan dengan bunyi musik yang bernada kematian.
Adegan film kemudian berpindah kepada pembajakan sebuah bis oleh beberapa pria Arab. Seluruh sandera kemudian dilepaskan dengan membawa pesan untuk pemerintah AS agar pemimpin mereka, Syekh Ahmad bin Thalal, dibebaskan. Beberapa waktu kemudian, sebuah bis beserta para penumpangnya disandera di sebuah lokasi di New York, yang latarbelakangnya di kejauhan tampak menara kembar WTC yang saat itu masih berdiri utuh. Meskipun FBI telah berusaha membujuk si penyandera dengan menggunakan bahasa Arab, namun teroris itu tetap saja meledakkan bis tersebut beserta seluruh penumpangnya. Adegan peledakan tersebut dilakukan dengan gerakan lambat atau slow motion dan diiringi dengan musik yang sama seperti musik yang melatarnbelakangi suara azan di awal film tadi.
Adegan-adegan selanjutnya dalam film itu penuh dengan penyelidikan terhadap warga Arab muslim di AS. Intinya, film ini ingin menyeret opini masyarakat untuk mengidentifikasikan orang-orang Arab muslim sebagai teroris. Di akhir cerita bahkan diperlihatkan seorang pemuda Arab tengah bersiap melakukan wudhu sebelum memulai opreasi terornya.  Film The Siege yang dibintangi oleh Denzel Washingon dan Bruce Willis ini dirilis tahun 1998 dengan propaganda yang sangat luas sehingga film ini berhasil masuk ke jajaran box-office.
Seorang cendikiawan Iran, Dr. Bukhari, menyatakan film ini merupakan sebuah alat untuk mempersiapkan opini masyarakat AS sehingga pada saat ketika peristiwa 11 September terjadi, mereka dengan segera akan menerima kebenaran berbagai propaganda yang selama ini disebarluaskan media massa AS, yaitu bahwa Arab dan muslim adalah teroris. Selain itu, melalui film seperti ini, masyarakat dunia akan terseret untuk menyamakan aksi intifadah Palestina dengan aksi terorisme, dan hal ini jelas akan menguntungkan Israel. Dr. Bulkhari menyimpulkan, peristiwa 11 September adalah sebuah kejadian yang telah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari dengan sangat teliti untuk mengorbankan umat Islam demi mencapai tujuan-tujuan kelompok Zionis. Terlepas dari film ini, cendikiawan Iran ini juga mengemukakan fakta menarik, yaitu mengenai nomor pesawat yang menabrakkan diri ke salah satu menara kembar WTC. Nomor pesawat itu adalah Q33 NY, bila di-block, kemudian diubah dengan huruf jenis Wingdings, akan muncul simbol:
Q33 NY
yaitu, pesawat, dua gedung, simbol kematian, dan lambang Zionis.
Ketika Peristiwa 11 September terjadi pada tahun 2001, para pejabat AS dengan segera menuduh pelakunya adalah teroris muslim yang dikepalai oleh seorang Arab muslim, Usamah bin Laden. Masyarakat AS dengan mudah menerima tuduhan ini meskipun tanpa bukti-bukti yang jelas, karena jauh sebelumnya opini telah terbentuk. Presiden Bush yang merupakan satu-satunya presiden di dunia yang terpilih dengan suara minoritas, akhirnya mendapat kesempatan untuk tampil sebagai hero yang berusaha menyelamatkan negaranya dari ancaman teror. Isu-isu perang melawan terorisme dilancarkan pemerintah AS dan akhirnya, Afganistan dan Irak pun diserang dan diduduki.
Pasca Peristiwa 11 September, ada beberapa film yang diproduksi AS berkaitan dengan peristiwa tersebut. Salah satunya adalah film DC 9/11. Film ini menempatkan presiden Bush yang diperankan Timothy Bottoms sebagai sosok pahlawan dunia. Ditampilkan dalam film tersebut, Bush berkata kepada kabinetnya, “Kita mulai dengan Bin Laden. Itulah yang diharapkan oleh rakyat AS.” Dalam film ini juga dijual konsep serangan pre-emptive dan kebijakan luar negeri AS. Film ini merupakan film AS pertama pasca peristiwa 11 September dan jelas-jelas merupakan film propaganda pemerintah. 
Film lainnya berjudul Terminal, karya sutradara Steven Spielberg dan dibintangi oleh Tom Hanks. Film ini berusaha menggambarkan kehidupan masyarakat pasca peristiwa yang menggemparkan dunia itu. Menurut Spielberg, sutradara film ini, dengan melihat bagaimana kehidupan orang-orang lain, rasa takut masyarakat akan mereda dan mereka akan kembali mempercayai kemanusiaan.”
Sedangkan film berjudul America’s Heart and Soul karya Louis Schwartzberg berusaha menampilkan kehidupan masyarakat yang di luar kenormalan. Menurut sutradara film ini, ia ingin menyampaikan pesan bahwa masyarakat AS harus mengambil keputusan ke arah mana negara mereka akan dibawa.
Film mengenai 11 September yang paling terkenal hingga ke seluruh dunia adalah film karya Michael Moore, yang berjudul Fahrenheit 9/11. Meskipun film ini meraih hadiah tertinggi di festival film Cannes, yaitu Palm d’Ore, namun pemerintah AS melarang pemutara film ini karena isinya yang mengkritik keras pemerintahan Bush. Michael Moore memulai filmnya dengan memutihkan tirai sinema dan memperdengarkan suara yang menakutkan dari tabrakan pesawat penumpang ke menara kembar WTC dan jeritan orang-orang ramai. Kemudian ditampilkan rekaman Presiden Bush pada saat terjadinya peristiwa itu sedang, sedang berada dalam sebuah kelas dan membacakan buku cerita untuk anak-anak. Seorang pengawalnya membisikkan berita mengenai kejadian itu, namun Bush tidak bereaksi dan meneruskan kembali pembacaan cerita itu.
Film Fahrenheit 9/11 juga menyoroti pemilu kepresidenan Amerika tahun 2000 dan Moore berusaha untuk menyampaikan kepada penonton bahwa George W. Bush berhasil menjadi Presiden AS meskipun total popular vote yang diraihnya lebih sedikit daripada suara yang diraih rivalnya. Dalam bagian lain dari film ini, juga diperlihatkan dokumen mengenai hubungan keuangan Presiden Bush dengan anggota keluarga Bin Laden. Moore juga memperlihatkan cara keluarnya keluarga Bin Laden dari Amerika selepas peristiwa 11 September. Melalui film ini, Michael Moore mengkritik kebijakan pemerintah AS yang menggunakan tragedi 11 September untuk menyerang Irak dan Afganistan.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa di satu sisi film-film Hollywood telah dimanfaatkan untuk mendukung kebijakan pemerintah. Penyebarluasan rasa takut akan ancaman teror dan menstereotipkan pelaku teror dengan umat Islam dan Arab sangat sejalan dengan politik konfrontatif yang dijalankan oleh kelompok neo-konservatif Gedung Putih. Namun demikian, tetap saja ada tokoh-tokoh sinema AS yang berusaha menyuarakan hati nuraninya dengan mengkritik kinerja pemerintahnya sendiri. Woody Allen, seorang sutradara terkenal AS menyatakan, “Hollywood haruslah menghentikan pembuatan film mengenai gerakan teroris di AS. Peristiwa 11 September merupakan modal yang baik bagi film komersial, namun film seperti itu tidak akan saya buat.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar