Minggu, 12 Agustus 2012

Febrianto Wijaya, Seorang Pemain Indonesia Yang Berhasil Tembus Bundes Liga Jerman


Febrianto Wijaya bergabung di klub anggota Bundesliga Jerman, VfB Stuttgart. Proses pemanggilan ABG 17 tahun tersebut tergolong singkat. Ceritanya berawal dari pertemuan bisnis antara paman Febrianto bernama Pieter Witono dan seorang pebisnis asal Jerman yang juga pengurus Stuttgart, Kurt Jurgen Walter.
Pieter iseng-iseng mengajak pemandu bakat Stuttgart itu menyaksikan Febrianto berlatih di Lapangan Karebosi, Makassar. Tak disangka, Walter langsung tertarik dengan gaya permainan Febrianto. Dia mengontak rekan-rekannya di Stuttgart setelah beberapa kali melihat aksi Anto –panggilan Febrianto– berlatih dan bertanding. Kurt Jurgen Walter belakangan diketahui adalah mantan pemain Stuttgart era 1980-an dan kini dipercaya sebagai pemandu bakat untuk klub tersebut.
’’Prosesnya sangat cepat. Saya baru percaya setelah ada surat pemanggilan resmi berbahasa Jerman dengan menggunakan kop surat VfB Stuttgart,’’ kata Pieter.
Status Anto di klub Divisi Utama Bundesliga tersebut bukan sebagai pemain seleksi, tapi langsung terikat kontrak dengan Stuttgart. Hanya, Kurt belum bisa memastikan apakah Febrianto langsung memperkuat Stuttgart A, B, atau C.
Prestasi Anto di pentas sepak bola junior memang cukup mengilap. Mula-mula dia hanya berlatih di SSB MFS 2000, milik Diza Rasyid Ali. Tak begitu lama menjadi murid SSB, anak sulung dari tiga bersaudara itu memperkuat timnas U-14 tahun.
Dari situlah, dia mulai menapaki sepak bola profesional. Tak lama di timnas U-14, dia naik kelas ke U-16 dan berlanjut U-17. Kini Anto tinggal menghitung hari untuk menjejakkan kakinya di markas klub Divisi Utama Bundesliga, Stuttgart, yang menjadi venue dua pertandingan penyisihan grup Piala Dunia 2006 itu.
Pada 31 Juli lalu, dia berangkat ke Jerman. Sebelum berangkat, putra sulung dari tiga bersaudara pasangan Ilham Wijaya dan Wenny Wijaya itu mengakui, keberuntungan dan kesempatan yang diperolehnya masih dirasakan seperti mimpi.
Maklum, sejak kecil dia tidak pernah membayangkan akan menjadi pemain sepak bola profesional. Di Makassar, gara-gara ’’gila’’ bola, sekolahnya amburadul. Sudah dua kali dia pindah sekolah dan kini dia masih duduk di kelas 1 SMA. (RASID AL FARIZI, Makassar)
sumber: http://rizalrahmawan.multiply.com/journal/item/3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar