Kamis, 02 Agustus 2012

Aquino Diharapkan Singgung Sengketa Laut China Selatan


Khairisa Ferida
Senin, 23 Juli 2012 10:35 wib
Presiden Filipina Benigno Aquino (Foto: Gulf News)
Presiden Filipina Benigno Aquino (Foto: Gulf News)
MANILA - Presiden Filipina Benigno Aquino dijadwalkan akan memberikan pidato tahunannya di hadapan Kongres. Sejumlah anggota Kongres pun mengharapkan, Aquino menyinggung persoalan Laut China Selatan dalam pidato tahunannya itu.

Salah seorang senator yang berasal dari partai yang berbeda dengan Aquino, Francis Escudero mengatakan, Presiden Filipina itu harus meyakinkan publik bahwa pemerintahannya dapat mengontrol situasi ditengah meningkatnya agresi China.

"Ia (Aquino) harus memberikan sebuah jaminan atau setidaknya menyinggung hal tersebut. Tentu saja tanpa harus menimbulkan kesalahpahaman lebih lanjut. Presiden harus meyakinkan publik bahwa ketegangan tidak akan meningkat lebih jauh," ujar Senator Escudero, seperti dilansir AFP, Senin, (23/7/2012).

Namun sumber dari kalangan dekat Aquino menyebutkan, Presiden Filipina itu tidak akan menyinggung persoalan Laut China Selatan dalam pidato tahunannya di hadapan Kongres. Sumber itu sendiri menolak membeberkan detail dari pidato Aquino.

Kendati demikian, Aquino diduga akan menyoroti kebijakan antikorupsi yang dilakukan pemerintahannya serta upaya menyeluruh untuk memperbaiki kondisi perekonomian Filipina.

Ketegangan antara China dan Filipina terkait Laut China Selatan, meningkat secara intensif sejak April lalu melalui berbagai insiden yang melibatkan kedua negara.

Selama ini China mengklaim Dangkalan Scarborough yang kaya dengan minyak dan gas sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya. Wilayah sengketa ini tidak hanya kaya dengan sumber daya namun juga merupakan jalur pelayaran penting di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik.

Klaim yang sama juga dilakukan oleh sejumlah negara lainnya seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja serta Taiwan.

Sejauh ini negara-negara Association of South East Asian Nation (ASEAN) belum memiliki posisi bersama terkait dengan konflik Laut China Selatan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pandangan dalam menyikapi konflik tersebut khususnya dengan China.(rhs)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar